Pengalaman Hamil di Negeri Orang Bagian 2

>> CUTI ISTIMEWA Di Indonesia, atau di belahan manapun di dunia, sudah jamak wanita hamil yang bekerja mendapat cuti. Di Indonesia, masa cuti hamil dan bersalin, resminya diberikan selama 3 bulan. Ada tempat bekerja yang mengharuskan cuti mulai diambil 1,5 bulan sebelum hari perkiraan lahir dan 1,5 bulan lagi setelah bersalin.

Ada juga yang memberikan kebebasan kapan masa cuti 3 bulan itu mau diambil. Bisanya menjelang hari persalinan, supaya Mama bisa menyusui langsung bayinya selama 3 bulan penuh. “Di Turki, ibu yang bekerja di pemerintahan atau pegawai negeri dapat jatah cuti hingga 2 tahun. Kalau bekerja di swasta, hanya 6 bulan.

Namun saat ini pemerintah sedang merumuskan undang-undang baru yang akan memberikan cuti tambahan agar si ibu bisa menikmati waktu lebih banyak dengan bayinya,” papar Franka. Sedangkan di Belgia, karya wan bisa memilih untuk meng ambil cuti penuh selama tiga bulan, atau cuti paruh waktu selama 6 bulan dengan waktu kerja yang dikurangi, atau tetap bekerja penuh tetapi selama 15 bulan boleh mengatur sendiri waktu kerja sesuai kebutuhan. Hal ini berlaku bukan hanya untuk karyawan perempuan tapi juga laki-laki.

Meski sama-sama maju, Amerika Serikat belum berkiblat ke Eropa dalam hal pengaturan cuti hamil dan melahirkan ini. Malahan, kebijakannya hampir sama dengan yang diterapkan di Indonesia. Tak jarang, pihak perusahaan hanya memberikan waktu 2 bulan cuti untuk karyawan perempuannya, ”Ketika masuk kerja, bayi harus dititip ke daycare atau sewa doula (perawat) yang membantu menjaga anak, beresin rumah, masak, laundry, dan lainnya. Tapi biayanya sangat mahal.

Untungnya ibu saya mau tinggal cukup lama di Amerika sehingga bisa menjaga anak ketika saya harus kembali bekerja. Suami juga mendapatkan cuti selama 3 hari. Tapi saya dengar di negara lain ada yang suaminya mendapat cuti selama sebulan. Wah, yang ini penting karena setelah bayi lahir peran suami sangat dibutuhkan.” Memang benar, peran Papa dalam kehidupan bayi tak kalah penting dari peran Mama. Untuk membuktikannya mungkin diperlukan riset tersendiri di negeri tercinta ini.

Dengan begitu, para pembela hak anak bisa mantap memperjuangkan perlunya cuti hamil dan bersalin yang lebih fleksibel demi kebaikan generasi penerus bangsa. Meski begitu, seperti kata Franka, hamil di negeri sendiri tetap lebih nikmat; bisa makan pempek atau bubur ayam di saat ngidam muncul. Atau seperti kata Lisa, setelah bersalin ia ingin sekali dipijat oleh mbok pijet. Namun apa daya, yang seperti itu tak mungkin didapat di Brussel.

Untuk anak yang mahir dalam berbahasa asing, berikan ia pelatihan di tempat belajar bahasa Perancis Jakarta.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *